Yang Mana - #TerserahPutri

"Sekarang Kakak putihan, ya," katanya.

Berat memang menerima pengakuan itu dari Adik sendiri. Sungguh. Bukannya senang sekarang warna kulitku membaik. Tapi sedih. Karena Putri sudah lihat warna kulitku sejak dia lahir. Dan sialnya, di kampus, Aku belum bisa dikatakan sebagai 'Laki-laki Berkulit Putih', yang mana berarti kulitku masih gelap, yang mana berarti Putri bisa bilang begitu karena benar-benar kulitku sudah memutih, yang mana berarti intinya dulu Aku sangat gelap karena Putri bilang sekarang Aku putihan sementara di kampus masih dibilang hitam.
"Memang sehitam apa Kakak dulu?"
"Sehitam...," dia berhenti seperti berpikir. "Rambut Orang Negro!" Lanjutnya.
"Wah!" Kubilang.
Bisa kau bayangkan definisi hitamnya kulitku menurut Putri di zaman dulu bagaimana? Bayangkan saja, Orang Negro itu sudah hitam. Dengan Putri membandingkanku seperti kulit Orang Negro saja itu sudah menyakitkan, tetapi ini, Putri membandingkannya dengan 'rambut' Orang Negro, yang mana Aku yakin hitamnya lebih dari warna kulitnya. Yang mana membuat 'makna' dari pernyataan Putri itu membuatku semakin sakit hati.
"Jangan sakit hati, Aku cuma serius. Jangan dianggap bercanda."
"Untung kau Adikku," kubilang.
"Kalau bukan?"
"Berarti orang lain, yang gak berarti apa-apa."
"Aku berarti?"
"Iya."
Dia nampak senang.
"Kak, kenapa orang gila kebanyakan suka pake baju warna hitam, atau enggak abu-abu?"
"Hah?"
Lagi-lagi, pertanyaan tak terduga seperti biasa Putri lakukan jika sedang denganku. Dan sebetulnya membuatku tercengang. Iya juga ya, kenapa orang gila selalu pakai baju warna hitam atau abu-abu, kenapa gak pernah lihat orang gila pake baju warna kuning?
"Karena...," Aku masih berpikir untuk jawabannya.
"Apa?"
"Kurasa, karena orang gila itu independen. Mereka bukan dari golongan karya atau golongan apapun."
"Maksudnya?"
"Maksudku, jika orang gila termasuk golongan karya, kurasa mereka pakai baju kuning, Put."
"Gak ngerti!"
"Sengaja, bikin jawaban yang kau gak ngerti. Biar diam."
Iya. Golkar. Golongan Karya. Hehehe.
"Besok UTS, Kak!" Aku lupa dia bilang UTS apa UAS. Ya, semacamnya lah ya. Kumohon mengertilah.
"Terus kenapa? Ada masalah?"
"Malas ngapal."
"Kakak dari SD sampai SMA gak pernah ngapal kalo mau ujian."
Ibuku ikut menyela obrolan kami.
"Jangan ajari Adikmu yang gak bener." Sambil bawa kresek hitam.
Padahal, maksudku bukan mengajari yang enggak-enggak. Tapi, itu semacam Aku memberikan rasa kepercayaan diri padanya. Agar dia santai, tenang, untuk menghadapi UTS itu. Tapi Ibuku mengartikannya lain.
"Darimana?" Kutanya.
"Dari warung." Jawab Ibu.
"Beli makanan?"
"Kuota!"
Kukira beli makanan.
"Oh, sekarang kuota dijual di warung juga ya?" Tanya Putri.
"Iya, jadi, mereka (yang punya warung) itu gak mau kalah sama Indomaret, Put. Mereka ingin menjual segala macam hal mulai sekarang." Kujawab. "Lihat aja, bentar lagi di warung bisa beli cangcut Indomaret." Sambungku.
"Ha ha ha ha!" Putri ketawa. Karena dia pernah beli celana dalam merk Indomaret.
Iya, kurasa Indomaret sudah keterlaluan dalam segi penjualan barang. Segala macam jenis barang ada merk Indomaret. Kaos sangsang, celana dalam, korek gas, baju, sukro, air mineral, kanebo, dan lain-lain.
Kurasa owner Indomaret lumayan serakah dalam berjualan. Semua dilahap. Tidak ada klasifikasi tertentu tentang apa barang yang di produksi Indomaret. Mereka bikin apa aja.
"Nih, Ibu beli sosis," kata Ibu.
"Asik!"
Ya. Adikku sangat suka sosis.
"Bukain!" Sambil sodorkan sosis kearahku.
"Masa gak bisa buka sosis."
"Bisa buka sosis itu gak wajib, Kak!" Dia bilang.
"Terus, yang wajib apa?"
"Makan sosis bukan buka sosis!"
"Ha ha ha!"
Sebenarnya banyak kejadian unik dengan Putri ketika Aku pulang kemarin. Tapi lupa. Yang mana berarti tetap menjadi Firman Si Pelupa, yang mana berarti Aku pikun, yang mana berarti pikun identik dengan seseorang yang sudah tua, yang mana berarti aku memang benar sudah tua, yang mana berarti orang yang sudah tua seharusnya sudah berkeluarga, yang mana Aku belum bisa berkeluarga seperti halnya mereka yang sudah berkeluarga seperti Pak Susilo Bambang Yudhoyono.
Eh, ngomong-ngomong, Pak SBY sudah makan apa belum ya, jadi khawatir.

WALK ON WATER


ENGGAK NGERTI! - #TerserahPutri

"Sekarang Kakak jarang pulang!"
Bentuk protes Putri pada dunia baruku yang dianggapnya berpengaruh terhadap kedekatan. Aku, sebagai seorang Kakak yang menurutnya terbaik, dan harus selalu begitu, tentu tidak ingin Putri merasa demikian.
Kubilang,
"Bukan begitu,"
"Pulang!"
"Teater hanya titik kesibukan baru, yang tak mungkin menggulingkan kau,"
"Nggak ngerti!"
"Anggaplah kau sebuah rumah," kubilang dengan hati-hati agar dia mengerti.
"Lalu?"
"Dan Aku punya kerjaan baru yang membuatku sering tinggalkan kau,"
"Terus?"
"Rumahku tetap Kau!"
"Tapi rumah akan hancur kalo penghuninya nggak pulang-pulang,"
Aku diam. Dan mengerti maksudnya. Kukira, itu keluar karena Aku punya rumah di Tasik yang jarang kutengok dan akhirnya rusak.
"Putri, kau tau Aku gak akan biarkan kau hancur,"
"Kalo gitu, pulang!"
"Iya,"
Kubilang iya tapi Aku sendiri tidak tau akan pulang kapan. Sementara Putri ingin cepat Aku bergerak. Sejalan dengan itu Aku tak bisa cepat-cepat karena dewa kecepatan sedang tak ada kesediaannya membantuku.
Dia memang belum saatnya kubilang 'beliau', hanya saja, Aku hormati dia sebagai seseorang yang Tuhan barter dengan kepergian Bapakku. Dia adalah beliau yang kusayangi dengan enak.
Bersamanya Aku tak butuh apa-apa yang lebih lucu. Mahakarya Ibu dan Tiriku yang buat kulupa dengan kepergian Bapakku. Ketika beliau bilang begitu, hancurlah Aku punya hati. Ingin pulang. Ingin ajak main dia punya diri. Tapi tidak bisa.
"Put, besok kita main!" kubilang.
"Kakak akan pulang besok?"
"Iya,"
Dia senang tampaknya. Dan memang iya kurasa dia senang akan kepulanganku. Masalahnya, Aku sedang tak enak badan, ditambah banyak kesibukan di kampus seniku. Kampus yang tak sama dengan kampus pada umumnya. Kampus yang dipenuhi dengan proses pementasan yang tak pernah berhenti. Selesai acara ini, ada lagi yang lain, begitu saja terus.
"Main kemana, Kak?"
"Kemana-mana yang bisa buat rindunya cukup untuk beberapa minggu kedepan,"
"Nggak ngerti!"
"Nggak usah ngerti, memang."
"Aku ingin ngerti apa-apa yang Kakak ucapkan, biar nyambung"
"Semuanya harus nyambung?"
"Ya iyalah!"
"Nanti Kakak ajarin,"
Beberapa percakapan diatas terbuat berbarengan dengan berpikirnya Aku caranya untuk pulang, karena masalah fisik yang masih sakit dan kendaraan yang tak ada.
Sebenarnya ada, kendaraan, motor, Mio tahun 2013 kepunyaan teman kuliahku. Bisa dipinjam tapi tak bisa Aku miliki karena punya orang. Kurasa.

Rap God


Enjoy!

Tentang Putri - #TerserahPutri

Harus dunia tahu, bahwa sekarang ini adalah dini hari memasuki waktunya Ibu muda dan tua bangun untuk siapkan hidangan sahur. Entah itu yang persedian makanan masih banyak di kulkas, atau yang hanya ada Indomie Ayam Bawang, bahkan yang tidak punya apa-apa kecuali cintanya kepada keluarga.
Semuanya bebas memilih, ingin seperti apa hidupnya, ingin secanggih apa jalan ceritanya, ingin se-tragis apa nasibnya, dan ingin sekuat apa puasanya.
Begitupun Adikku, Putri Vanessa Fillia, yang biasa Aku panggil Putri, sementara dia memanggilku 'Kaki Seribu', yang adalah plesetan dari 'Kaka' sehingga dirubah Putri menjadi 'Kaki' dengan diikuti 'Seribu' supaya menegaskan bahwa Aku adalah binatang yang jumlah kakinya mengalahkan jumlah hutang negara.
Putri lebih memilih hidup dengan riang gembira meski tanpa Ayahnya. Aku harus beritahu, bahwa Ayahnya belum meninggal seperti Ayahku. Ayahku dan Ayahnya berbeda. Kami hanya satu Ibu. Lahir dari satu lubang yang sama.
Ayahnya Putri tinggal di Tasikmalaya bersama Istrinya yang menurutnya tercinta, tapi tidak menurut kami disini. Kami sempat menjadi bulan-bulanan tunggakan waktu kami masih pengangguran di Bandung. Ayahnya Putri tidak tahu ini.
Putri lahir dari rahim Ibu yang ketika itu menjadi istri kedua Sang Pangeran Tasikmalaya. Ibuku sering dituduh perusak rumah tangga orang, padahal tidak seperti itu. Semua tuduhan itu berdatangan seiring dengan kelahiran Putri. Kami tanggung semuanya sendiri. Maksudku, berdua dengan Ibu. Eh, bertiga dengan Abang.
Hampir tak ada yang tahu bahwa Putri pernah akan dicoba digugurkan Ibu karena takut membuat Istri pertama sang pangeran marah. Namun, segala macam cara dilakukan Ibu, semuanya gagal. Putri tetap lahir dengan cantik.
25 Juli 2008, tanggalnya, dimana seorang Bayi Prematur lahir ketika usia kandungan Ibu masih 8 bulan. Kurasa Putri tak sabar ingin lahir, sehingga keluar sebelum waktunya. Kelahirannya sempat menjadi sebuah kontroversi karena tepat seminggu setelah Putri lahir, Ayahku meninggal dunia.
Aku hancur, sadar bahwa akan hidup dewasa tanpa bimbingan Ayah. Sementara banyak laki-laki yang mengaku mencintai Ibuku namun tak sesuai faktanya. Berusaha berlomba ingin menjadi Ayah baruku. Padahal, bukan itu yang Aku mau. Karena Aku sudah punya. Aku tidak ingin punya yang baru, nanti Ayah lamaku marah dan cemburu. Jika mencintai Ibuku, silakan cintai dia dan berprilaku layaknya kepada teman padaku. Bukan untuk menjadikanmu Ayah baruku.
Apapun itu, kau harus tahu, bahwa meskipun kehadirannya tidak Aku duga sebelumnya, tapi Aku mencintai Putriku. Dia salah satu hartaku yang paling berharga selain gaji pensiunan Ayah yang turun padaku.
Ini tentang Putri, seharusnya, jika kau tak ingin tahu, kau tak usah baca ini sampai sini.

LUAS INDONESIA - #TerserahPutri

Jumat yang baru berlalu beberapa hari saja, selain ada kegiatan ibadah untuk muslim laki-laki, Aku juga ada kegiatan lainnya, ialah mengantar Putri sekolah.
Hari yang kukira akan berjalan mudah dan tanpa masalah ternyata menunjukkan keperkasaannya.
"Kenapa berenti?" tanya Putri.
"Ban bocor," kubilang.
"Aku turun jangan?"
"Gak usah," kataku. "Diam disitu!"
Aku turun dan cek ban sebelah mana yang bocor, kupijit ban depan, masih keras seperti ban pada umumnya. Kucoba ban belakang, lembek macam kembang gula kesiram air.
"Yang belakang?"
"Iya," kujawab. "Kamu tau tambal ban dekat sini nggak, Put?"
"Tau,"
"Dimana?" kutanya, serius.
"Lurus, sekitar 100 meter lagi, ada pertigaan gitu, maju dikit ada tukang buah,"
"Sebelah mananya tukang buah?"
"Tanya aja ke tukang buah," katanya. "Pak, tambal ban terdekat sebelah mana? Gitu."
"Kalau harus nanya, kenapa mesti ke tukang buah, disini juga bisa,"
"Yaudah, tanya aja disini,"
Aku hampiri seseorang yang sedang duduk dengan rokok di apit di antara jari tengah dan telunjuknya.
"Kang, punten," kataku, "Tambal ban dekat sini, dimana ya?"
"Oh, ada di pertigaan depan, dekat tukang buah." Katanya.
"Terus tanya tukang buah?"
"Ngapain nanya tukang buah?" tanya orang itu bingung. "Tambal ban nya ada di seberang tukang buah,"
"Oh," Aku malu. "Ya sudah, terima kasih ya, Kang!"
Aku kembali ke Putri, dan langsung mendorong motorku dengan Putri yang masih duduk di tempatnya.
"Kak?"
"Ya?"
"Ini motor nggak mogok, kan?"
"Enggak,"
"Kalau enggak, kenapa nggak di naikin?"
"Nanti, ban nya makin rusak, Put,"
"Sambil di dorong sambil di gas dikit-dikit, bisa?"
"Biar apa?"
"Biar kakak nggak usah susah-susah dorong motor,"
Kukira, benar juga, apa kata Putri. Semua sarannya bisa Aku lakukan untuk mengurangi tenaga yang Aku keluarkan untuk mendorong motor sampai ke tambal ban.
"Kak?"
"Iya?"
"Indonesia itu luas ya?"
"Kau pikir sendiri, dari Aceh, hingga Papua, dalam peta sekitar 30 centimeter. Sementara di 1 centimeter biasanya sama dengan jutaan centimeter di dunia nyata."
"Oh," Putri mengangguk. "Berarti luas Indonesia berapa Centimeter?"
"Tanya ibumu," kataku.
"Yasudah,"
Tiba di tempat yang seharusnya, ialah tambal ban yang ada di pinggir jalan.
"Tutup hidungmu!"
"Kenapa?"
"Akan ada banyak debu,"
"Mana? Nggak ada!"
"Sebentar lagi, tutup!"
Dia menutup hidung, sementara Aku buang angin.
"Iiiih, itu bukan debu!"
"Debunya halus,"
"Ha ha ha!"
Selesai tambal ban, cepat kuantar Putri ke sekolah, biar tidak terlambat ke sekolah. Lalu, pergi menuju tugasku di bumi ini yaitu cari uang sambil main.
Siangnya, sekitar jam 2 lebih sedikit sekali, Aku dapat telpon dari Ibu, telpon yang kuangkat ini adalah setelah Ibu telpon 3 kali tidak kuangkat.
"Kemana aja sih, baru angkat telpon,"
"Biasa, Bu," kubilang. "Ada apa? Kok panik?"
"Ke rumah Ibu sekarang!"
"Iya ada apa?"
"Putri keracunan!"
"Tunggu!"
Aku langsung pulang, meski kerjaan masih segunung galunggung. Aku khawatir, karena Aku sayang dia. Jangankan hanya racun, bahaya apapun yang menimpanya Aku rela gantikan.
"Bu!" aku langsung masuk tanpa mengetuk.
Ibu melihat, sementara Putri menengok dengan muka pucat sekali.
"Kau kenapa?" kutanya.
"Pusing, lemas, muntah,"
"Ibu kasih makan apa dia?"
"Nggak tau, kata temannya, dia beli minuman, abis olahraga."
"Di sekolah?"
"Iya," jawab Ibu.
"Aku boleh cari tukang minuman itu?" kutanya untuk supaya Aku tau perbuatanku masih disetujui Ibu.
"Nggak usah, dia sama-sama cari uang, mungkin dia nggak tau racikan apa yang ada di minuman itu."
"Ok, Aku diam,"
"Kata dokter, biarin dia muntah, supaya racunnya keluar,"
"Iya, Tuhan tau, dokter butuh uang,"
"Maksudnya?" Ibu tidak mengerti.
"Sehingga Tuhan kasih sakit ke Putri, untuk supaya Ibu kasih uang ke dokter sebagai upah,"
"Oh,"
"Kak?" tanya Putri.
"Iya?" kuhampiri Putri sambil mengusap kepalanya.
"Ibu nggak tau luas Indonesia,"
Aku dan Ibu senyum, bahkan sedikit lagi hampir tertawa.

Kambuh - #TerserahPutri

Malam Sabtu, waktu itu, sebulan kurang sehari yang lalu. Seperti biasa Aku sedang rindu-rinduan dengan WNDK, itu nama orang, biar kau cari tau sendiri siapa nama aslinya.
Tiba beberapa saat, perutku sakit, hasil dari kambuhnya penyakit yang sudah lama di pelihara. Mungkin untuk manusia, peliharaan itu adalah hewan, Anjing, Kucing, dan lainnya. Tapi Aku, seorang Alien, harus memelihara penyakit, biar beda dari kalian (manusia).
"WNDK," kutulis di Whatsapp.
"Iya?"
"Penyakit kambuh,"
Sebelumnya, Aku pernah ceritakan riwayat penyakitnya ke WNDK.
"Oh, tidurin, Firm," jawabnya.
Firm itu Aku. Dia manggil Aku dengan sebutan itu. Katanya biar simpel, padahal harusnya sebut saja F jiga ingin.
"Iya," kubalas. "Gapapa ngga di temenin?"
"Gapapa,"
Akhirnya, kutidur pulsa. Maksudku, pulas.
"Selamat tidur, Firm!" katanya, dan tidak kubalas karena sudah tidur. Aku baca itu keesokan.
Besok, yang berarti hari ini, Aku bangun dengan masih sakit. Berguling-guling di tempat, menandakan sakitnya yang lumayan.
"Kenapa?" tanya Abang.
"Kambuh,"
Sebenarnya, dengan Abang, bahasanya pakai Sunda, namun disini, harus Aku artikan biar orang Flores bisa tau artinya apa. Kalau bisa, maunya pakai bahasa Spanyol, biar Fernando Torres bisa ngerti.
"Obat mana?"
"Abis,"
"Gimana atuh kerjaan,"
"Abang dulu yang urus,"
"Oke," katanya.
"Ikut sampai rumah Ibu, biar di urus, kalau disini, gaada."
"Hayu,"
Kami berangkat ke Ibu, yang ada Putri juga disana. Karena memang Aku dan Ibu tak tinggal serumah disebabkan oleh diboyongnya Ibu kesana oleh tiriku, dan diajaknya Putri bersamanya karena lebih jauh kalau dari rumahku jika berangkat sekolah. Putri hanya ada di rumahku saat akhir pekan saja. Selebihnya, dia milik Ibu.
"Kenapa ini?" tanya Ibu.
"Sakit dia kambuh," jawab Abang.
"Telat makan?"
"Engga," kujawab.
"Makan mie?"
"Iya,"
"Kamu mah ngeyel, dibilang jangan, makan lagi makan lagi,"
"Harusnya di elus, bukan di omelin,"
"Ke dokter sekarang, bareng Ibu,"
"Iya,"
Abang berangkat karena banyak kerjaan, sementara Aku, di rumah Ibu sambil melihat Putri yang baru pulang sekolah.
"Kambuh, Kak?" tanya Putri sambil melepaskan kaus kaki.
"Iya," kujawab sambil memegangi perut.
"Kakak dilarang makan Mie," katanya sambil mengikat rambut.
"Iya tau, tapi semalam, itu lapar." Aku membela diri sambil masih pegang perut.
Putri sudah tau sakitku, berikut dengan anjuran dari dokter untuk tak makan ini itu.
"Kenapa harus ada sakit, sih, Kak?"
"Harus,"
"Iya, kenapa?"
"Penyakit itu mata pencaharian seoranf Dokter,"
"Hmmm,"
"Kalau semuanya sehat, ngapain mahal-mahal kuliah kedokteran,"
"Ha ha ha!"
Dan mungkin bagiku, selain mata pencaharian Dokter, penyakit juga adalah sebuah eksistensi Tuhan, di dapat dengan persepsi tingkat tinggi dari prasangka buruk tentang berlakunya hukum bumi dan sekitarnya. Ngerti? Enggak? Ya, Syukurin!
Kami ke Dokter, tepatnya Dokter yang membuka Praktek di rumahnya. Namanya Aku lupa. Bukan Dokter Azhari, kurasa.
"Antrinya panjang ya," kata Putri.
"Iya,"
"Masih kuat?"
"Insha Allah!"
"Kak," tegur Putri seperti berbisik.
"Iya?"
"Kok yang kelihatan sakit cuma Kakak doang,"
Kulihat sekitar, dan memang, orang yang antri, terlihat lumayan sehat.
"Mungkin, mereka sakit hati,"
"Semuanya?"
"Sebagian," kujawab.
"Sebagiannya lagi, kenapa?"
"Sakiti Aku lagi," entah apa, Aku jawab seperti itu.
"Apaan, ha ha ha!" Putri ketawa.
Tak lama, namaku dipanggil seorang pelayan, atau entah perawat namanya itu. Aku gak tau.
"Bapak Firman,"
Putri senyum.
"Kenapa?" kubilang.
"Dipanggil Bapak,"
"Ha ha ha!"
Masuk, dengan Ibu yang duduk di kiri, dan Aku di kanan, sementara didepan ada Bu Dokter yang Aku yakin ada turunan Belandanya.
"Apa keluhannya?"
"Sakit ini," kutunjuk bagian yang sakit.
"Kenapa?"
"Kalau kata orang dulu, namanya Kram Usus," jawab Ibu.
"Oh iya, punggung sakit?"
"Iya," kubilang.
"Mata perih?"
"Bibir pecah-pecah," kujawab.
Ibu, Putri, dan Bu Dokter ketawa. Aku mah enggak, karena sakit.
"Berbaring disana," katanya.
Aku tiduran, dengan disambut oleh Bu Dokter yang berdiri dan menghampiri.
"Angkat bajunya!"
Dia periksa dadaku hingga perut, dengan menggunakan alat yang biasa Dokter-dokter gantungkan dileher itu, Aku lupa namanya.
Lalu, dia memijit-mijit perutku dengan saksama.
"Tarik nafas," "Buang,"
Kubuang.
"Tarik nafas," "Buang lagi," katanya.
Kubuang lagi.
"Tarik angkot," Putri menyela.
Aku, Dokter, dan Ibu ketawa.

BOSS - #TerserahPutri

"Kak, mampir kesini sebelum jalan,"

Belum lama, sekitar 2 minggu yang lalu. Pagi sekali, itu terjadi, buka mata, buka WhatsApp, kulihat pesan itu dari kontaknya Ibu. Itu Putri, yang pinjam hp Ibu untuk minta Aku datang kesana, ke rumahnya Ibu.
Belum kubalas, karena Aku sibuk membantu sendi-sendi tulangku untuk berbunyi. Dan menguap karena lihat Abang menguap.
"Iya," kubalas.
"Jam?"
Btw, ini masih di Aplikasi WhatsApp.
"Sepuluh lebih dua,"
"Lebih dua, tapi bisa jadi lima kalo dijalan ketemu macet,"
"He he he, iya,"
Aku bersiap, mulai dari mandi, makan, hingga cari-cari kunci motor yang lupa di taruh dimana. Sedikit buru-buru karena penasaran ada apa Putri suruh kesana.
Perjalanan satu jam, dari rumahku ke rumah Ibu, dan langsung bertemu Putri yang sedang memakai sepatu. Oh iya, dia sekolah siang, shift 2, Aku juga heran kenapa anak SD harus ada 3 shift sekaligus. Ketika Aku coba tanya pada Wali Kelasnya Putri:
"Kenapa harus ada jam siang dan sore?"
"Kelasnya nggak cukup, muridnya banyak,"
Lah, kok bisa, padahal 2 tingkat, padahal kalau memang benar tidak cukup ya sudah jangan menerima banyak murid.
"Ada apa, Put?" kutanya.
"Sini, duduk dulu," kata Putri sambil mengikat tali sepatu.
Aku duduk. Dia berdiri. Masuk ke dalam untuk sarapan dan hanya Ibu yang keluar, yang katanya sedang di kamar mandi dan dipanggil Putri untuk menemuiku.
"Man," tegur Ibu.
"Iya,"
"Ibu minta tolong,"
"Sebentar, Bu," kubilang.
"Apa?"
"Putri mana?"
"Kenapa emang?"
"Dia suruh Aku duduk, eh dia berdiri, terus pergi,"
"Ha ha ha!"
Dan Ibu jawab Putri sedang sarapan, darisitulah Aku tau dia sarapan dan akhirnya ditulis diatas.
"Apa?" kutanya Ibu.
"Apa?" Ibu balik nanya.
"Minta tolong,"
"Oh, ini," kata Ibu. "Temenin Putri renang, di Kenfer,"
"Kapan?"
"Sekarang,"
"Oh, iya,"
"Mau?" tanya Ibu.
"Apa yang nggak buat Putri,"
Akhirnya, itu adalah harinya, dimana Aku adalah satu-satunya pria dewasa yang mengantar. Sisanya, segerombol ibu-ibu dewasa bahkan tua.
"Katanya, Ayah Putri di Tasik?" tanya seorang Ibu-ibu.
"Ini Kakak, bukan Ayah," jawab Putri.
"Oh, nggak kerja emangnya, A?"
"Kerja, tapi santai," kubilang.
"Shift siang, ya?"
"Engga, kapan aja, Saya mah,"
Sebenarnya Aku tau, arah pembicaraan Ibu ini kemana. Tidak lain adalah ingin bilang Aku pengangguran.
Aku dan Putri berangkat, lupakan Ibu-ibu tadi, karena untuk apa, sudah ketebak jalan omongannya kemana. Menggunakan angkot yang disewa pihak sekolah khusus untuk acara renang ini. Aku duduk didekat pintu dengan Putri yang Aku pangku biar tidak jatuh.
"Kak,"
"Ya?"
"Aku nggak bisa berenang,"
"Jangan minder, susah nanti hidupnya,"
"Yang lain udah bisa,"
"Sekolah tempatnya apa?"
"Belajar,"
"Kamu, ikut renang ini untuk?"
"Belajar,"
"Waktu kamu belajar Matematika, awalnya kamu sudah bisa?"
"Belum,"
"Sekarang, apakah wajar Putri belum bisa renang karena baru mau belajar?"
"Tapi kolam renang bukan sekolah,"
Disitu, Aku diam lumayan lama.
"Kak?" tegur Putri sambil senyum.
"Kamu susah dikasih motivasi, Put,"
"Ha ha ha ha!" dia
Tiba di Kenfer, kolam renang di daerah Cimahi, entah Utara atau Selatan, pokoknya lumayan nanjak. Berbaris, mendampingi Putri yang mulai di absen Pak Dedi.
"Putri Vanessa Fillia," kata Pak Ded. "Langsung masuk yang udah dipanggil,"
Aku dan Putri masuk, langsung di suguhi penuhnya setiap kolam yang tersedia.
"Kak, penuh,"
"Iya,"
"Gimana belajarnya ini,"
"Mau Kakak usir, tapi kasian, mereka bayar,"
"Ha ha, minum aja airnya,"
"Terus mereka pulang sendiri,"
"Iya, ha ha ha!"
"Terus kamu renang di kolam yang nggak ada isinya,"
"Ha ha ha, itu mah terbang, bukan renang,"
"Iya, ha ha,"
Siswa-siswi disuruh ganti baju, tidak Aku sangka Putri sangat bersemangat, padahal tadi dijalan dia gugup. Itulah Putri, mood nya jarang ketebak seperti apa yang keluar dari mulutnya yang juga sama selalu nggak ketebak.
Terdengar Pak Dedi membunyikan peluit, sambil berteriak memanggil murid-muridnya termasuk Adikku yang kebetulan juga.
Mereka semua berenang di kolam khusus untuk anak sesuai usianya, dan Pak Dedi kulihat seperti seorang gembala yang sedang mengurus puluhan domba yang sulit diatur. Sedikit kasihan, kulihat raut wajah kewalahan di wajah Pak Dedi. Aku merasa, bahwa Aku akan sia-sia jadi satu-satunya lelaki yang ikut kalau saja Aku tidak membantu mengurus anak-anak kecil ini.
"Pak, biar kubantu," kataku.
"Eh, iya, Kakaknya Putri Vanessa, ya?"
"Iya,"
"Makasih, ya,"
Meskipun kubantu, yang kulakukan tetap sesuai dengan perintah Pak Dedi. Kupanggil gerombolan yang ada didekat Putri untuk mendekat.
"Ada apa?" tanya Putri.
"Kasihan Pak Dedi, Kakak mau bantu urus kalian,"
"Asiiik," Putri senang, kelihatannya.
Tugasku disini adalah menjaga anak-anak yang belum dipanggil Pak Dedi untuk tes, dan tentunya bukan hanya menjaga, tapi juga menghibur mereka, agar tak bosan dan bisa saja kabur entah kemana.
"Kita main apa?" tanya salah satu anak.
"Main petak umpet!" kata Putri.
"Jangan," kujawab.
"Kenapa?"
"Nanti hilang,"
"Kan petak umpet, bukan petak hilang," jawab Putri. "Berarti, ya, cuma ngumpet, Kak!"
Aku diam lagi.
"Kak?" tanya Putri sambil senyum seperti seorang yang telah mengalahkan lawan debatnya.
"Pokoknya, jangan petak umpet,"
Aku sedikit berpikir untuk apa yang harus Aku lakukan. Karena jujur hari itu Aku cukup kebingungan mengatasi anak-anak ini.
"Eh, bentar, sebelum main, Kakak pengen tau dulu nama kalian satu-satu," kubilang.
Akhirnya, Aku punya ide, agar tak ada bermain yang aneh-aneh sebelum mereka di tes Pak Dedi.
"Tapi, sambil perkenalan, Kakak pengen tau cita-cita kalian," kataku. "Bisa?"
"Bisaaaaaa!" jawabnya serentak.
Kusuruh Putri, untuk yang pertama kali perkenalan, maksudku, supaya teman-temannya tau caranya perkenalan dan ceritakan cita-cita mereka.
"Namaku, Putri Vanessa Fillia, anak bungsu, kalo makan ayam suka kepalanya. Cita-cita ingin jadi koki, tapi kata Kakak cita-cita itu harus tinggi, jadinya Aku ganti, sekarang cita-cita Aku ingin jadi Boss-nya Koki."
Aku senyum.
"Kalo kamu?" kutunjuk orang disamping Putri.
"Nama Saya, Afifatuzahra," katanya dan berhenti, nampaknya dia bingung.
"Hobi?" kupancing dengan pertanyaan.
"Makan eskrim,"
"Cita-cita?"
"Ingin jadi dokter,"
Selalu, memang, Dokter menjadi cita-cita umum anak Indonesia.
"Bagus, tapi, cita-cita harus tinggi," kubilang.
"Boss-nya Dokter, Kak!" kata Putri sambil angkat tangan.
"Ha ha ha!"
Beberapa anak sudah kutau namanya, seperti biasa, Pilot dan Dokter mendominasi cita-cita mereka. Harusnya tidak begitu.
Setelah semuanya selesai, dan waktunya pulang, Aku minta duduk di depan karena kulihat mata Putri sudah setengah sadar, kelihatannya ngantuk.
"Boleh tidur?"
"Boleh,"
"Tidur siang tetap harus berdoa ya?"
Lagi-lagi, Aku diam sejenak, karena nggak tau jawabannya.
"Kak?" tanya Putri sambil senyum jahat, lagi.

Matahari Terbit - #TerserahPutri

Dulu sekali, kurang tau pasti tanggal dan harinya, yang jelas bukan hari Jumat karena kejadiannya Hari Sabtu. Pukul dua pagi, Aku, dan Putri berangkat menuju pantai yang katanya sedang sepi karena bukan hari libur.
Berdua menyusuri jalanan gelap, dibantu binatang-binatang malam yang terbang menuju lampu utama motor dan muka si pengendara.
Kenapa sepagi ini? Karena:
"Kak, Aku pengen lihat Matahari Terbit di pantai," kata Putri.
Kalimat itu terucap di Jumat malam, dan begitu mendadaknya kami langsung berkemas pakaian dan makanan yang harus dibawa kesana.
"Kita berangkat pagi ini," kataku.
"Matahari terbit kan pagi, perjalanan ke Pangandran berapa jam?" tanya Putri.
"Sekitar 4 jam, darisini," kubilang.
"Keburu gitu kalo berangkat pagi?"
"Jam 1, itu juga pagi, Put!" kataku.
"Itu malam," tegas Putri.
"Engga gitu, aturan di bumi, lewat jam 12 sudah dianggap pagi, Put," tegasku lebih tegas.
"Oh," katanya.
Tidak lama kemudian.
"Bumi punya aturan ya?" tanya Putri setelah diam.
"Punya," kujawab. "Kakak juga nggak tau siapa yang buat,"
"Kakeknya kakek buyut kita kayaknya, Kak!"
"Mungkin,"
"Kenapa matahari harus terbenam, Kak?" Putri mengganti topik hidayat.
"Karena kalau tidak, Jerman nggak kebagian siang."
"Kalo Amerika?"
"Sama," kubilang.
"Oh,"
Ngomong-ngomong soal luar negri, sebenarnya Aku sedang rindu Jerman. Terakhir kali kesana, itu, waktu, Aku, nggg, itu, nggak pernah. Aku cuma rindu saja. Rindu pada Nabi Muhammad saja bisa, padahal belum pernah ada titik temu sebelumnya.
"Ayo, kita berangkat!"
"Nggak tidur dulu?" tanya Putri.
"Harusnya engga, kalo tidur, matahari terbit keburu pulang,"
"Oh,"
Kami berangkat, pukul satu pagi, yang akan jadi malam kalo Putri yang ngomong. Perjalanan cukup jauh dengan tanpa tidur sebelumnya. Ini konsekuensi hidup. Jika kau belum siap, harusnya mati dari sekarang.
Anggap saja sudah melewati 4 jam perjalanan, karena akan panjang jika Aku ceritakan. Eh, tapi, tadi, dijalan, sempat ada percakapan dengan Putri. Begini:
"Aku tidur gapapa?"
"Sebentar," kubilang.
Aku menepi, untuk mengikat badan Putri biar nggak jatuh dijalan. Menggunakan handuk yang kubawa, yang tujuan awalnya untuk mandi di Pangandaran.
"Boleh," kubilang.
"Apa?"
"Tidur,"
"Di ikat biar nggak jatuh?"
"Iya," kujawab.
Tiba, di Pangandaran, dengan mata yang sudah ngantuk karena belum tidur. Berbanding terbalik dengan Putri, yang segar karena baru bangun.
"Sudah sampe?" katanya.
"Udah," kubilang.
"Kita nunggu matahari dimana?"
"Sebentar, Kakak kunci leher dulu,"
"Motor?"
"Tangkal," kubilang.
Tangkal itu pohon jika diartikan ke Bahasa Indonesia.
"Oh,"
Kuajak Putri duduk di bangku yang sudah tersedia di pesisir, sambil memesan susu panas untuk Putri, dan kopi untukku.
"Nah, kita nunggu disini,"
"Jam berapa matahari datang?"
"Harusnya 15 menit lagi,"
"Oh iya, udah mulai terang ya,"
"Iya,"
Kutunggu, 15 menit hingga perut bunyi.
"Makan dulu yuk!" kubilang.
"Apa?"
"Nasi goreng!"
"Iya,"
Nasi goreng datang setelah Aku pesan, dengan beberapa hiasan, plus bonteng (timun) yang dibentuk seperti mahkota.
"Udah cerah, tapi kok matahari belum ada ya, Kak?" tanya Putri.
"Iya, aneh."
"Udah jam 6,"
"Harusnya dari setengah 6 sudah muncul kok,"
"Terus kenapa ini engga?"
"Malu, mungkin,"
"Harusnya engga," kata Putri.
Aku mulai bertanya-tanya, kenapa matahari belum muncul padahal hari sudah terang. Tiba-tiba, ada cahaya yang langsung ke mata Putri.
"Kak, ini ada cahaya,"
"Oh iya," kataku.
"Kok, darisana?" katanya.
"Eh," aku kaget.
"Ini pantai apa?" Putri serius.
"Barat," kubilang.
"Matahari terbit dari?"
Aku mulai ingat, bahwa Aku salah pantai, dan memang salah karena ini Pantai Barat.
"Terus kenapa kita di Barat, kak, ih?" Putri terlihat gereget.
"Kakak baru sadar,"
"Aaaaah," dia menghela nafas.
"Maaf,"
"Kenapa nggak terbit di barat aja sih, mataharinya?" tanya Putri.
"Jangan," kubilang.
"Lho, kenapa?"
"Nanti kiamat,"
"Kok bisa?"
"Matahari terbit di barat itu salah satu tanda-tanda kiamat, Putri!" kujelaskan. "Meskipun iya kita bisa melihat matahari disini, untuk apa, kalo akhirnya kiamat datang." lanjutku.
"Ha ha ha, iya!"
"Maaf,"
"Iya, gapapa,"

Salaman - #TerserahPutri

"Kakak, bangun!" katanya dengan menjinjing sepatu.
"Mau kemana?" kutanya.
"Antar Aku sekolah ih,"

Ya. Aku lupa, bahwa sudah dari 3 hari ini, Putri menginap di rumahku karena libur sekolah. Hari ini, Senin pagi, dengan bau kopi yang diseduh tetangga, bersama kepulan asap yang berasal dari teras rumah Pak Gatot, Aku harus bangun pagi ketika biasanya tidak seperti itu.
Aku tau, bangun pagi adalah sahabat bagi pegawai pabrik, siswa sekolah, dan ayam milik Pak Budi. Juga musuh para pengangguran, buruh shift tiga, dan Kelly kucingnya Putri. Hanya saja, dengan berat hati harus Aku relakan pagi ini bangun sepagi dingin demi antar Putri sekolah.
"Bentar, Kakak mandi dulu," kataku.
"Jangan mandi,"
"Kenapa?"
"Ini buru-buru, harus upacara,"
"Oh,"
"Cuci mata aja," kata Putri beri saran.
"Cuci muka, Put, ih!"
"Cepetan!"
Aku bergegas karena tau dan juga pernah merasakan buru-buru di hari Senin karena Upacara Bendera. Dan sekarang, jujur Aku menyesal pernah buru-buru di hari Senin, karena buat apa, hukumannya cuma jalan bebek, dan atau di panggang di terik matahari pagi.
"Cepetan!"
"Iya, bentar, cari jaket dulu,"
"Itu jaket, digantung!"
"Cari yang agak tebel, ini pagi, dingin, ditambah yang dibonceng juga darah daging sendiri, gak hangat,"
"Maksudnya?"
"SMP nanti kamu baru mengerti itu, Put,"
Putri datar, wajahnya. Sepertinya tidak mengerti apa yang Aku maksud. Sampai kutemukan jaket, dia masih diam sepuluh ribu bahasa.
"Udah sarapan?"
"Belum, kan nggak ada yang masak,"
"Harus sarapan, kita beli bubur di depan,"
Kami berangkat, menuju tukang bubur, yang tidak ingin naik haji karena Kristen. Bersama ampela yang sedari lama menjadi sobat bubur dan ayam.
"Ci, satu ya!" pintaku pada tukangnya.
"Makan disini?"
"Dimana aja, asal jangan di Malaysia, karena jauh," kubilang.
Cici tersebut mulai meracik bubur andalannya, dengan gaya yang lambat namun tak terlalu meyakinkan.
"Malaysia itu dimana?" tanya Putri.
"Negara tetangga,"
"Deket?"
"Kalo dari Globe, deket." Kubilang. "Sejengkal juga enggak," lanjutku.
Bubur pun matang dan kami pun makan, sekali-kali ku suapi Putri, perbandingannya 3:1, yang adalah 3 suapan untuk Aku, dan 1 untuk Putri. Itu adalah proporsional, tak adil, tapi pas, karena Aku punya lambung yang lebih besar dari Putri.
"Nih, ambil ati ampelanya, pegang!" kubilang.
Dia ambil, dan makan. Lalu:
"Kak, empedu itu ada di sebelah mana?"
"Hah?" Aku blank untuk itu.
"Kak?"
"Kan itu ampela, bukan empedu,"
"Ini pertanyaan baru, nggak ada urusan sama ati ampela!"
"Empedu," kataku bersiap-siap. "Itu, ada, di, sebelah, sini!" sambil menunjuk bagian perut bawah, dengan tidak yakin.
"Oh, Aku nggak yakin," jawabnya.
"Kakak juga,"
"Eh, Ha ha ha!"
Bubur habis dengan menyedihkan, dan segera berangkat karena jarum jam semakin cepat melaju menuju angka tujuh. Kasihan Putri kalau dia kesiangan, Aku takut dia nggak bisa mengatasinya.
Beberapa meter ku jalankan motor dari kios bubur ayam itu, Putri tiba-tiba menyuruhku menepi.
"Sebentar," katanya.
"Udah siang ini!" kataku.
"Gapapa, waktu masih banyak,"
Aku berhasil menepi.
"Ada apa?"
"Ada yang ketinggalan," jawabnya.
"Serius? Penting nggak? Pulang lagi nih?"
"Serius, penting, iya."
Kuputarbalikan motor menuju rumah lagi, mumpung masih belum jauh, dan masih ada waktu.
Tiba, lalu kusuruh Putri untuk cepat mengambil barang yang kelupaan. Dia sedikit berlari, dan menepuk tangannya.
"Kelly!" sahutnya. "Sini!"
Kucing datang, dan dia ambil tangan kucingnya untuk dia ajak salaman. Aku tidak tau itu namanya tangan atau kaki bagi kucing. Yang jelas, Aku membuat kerutan di dahi, hingga 5 garis sekaligus.
"Yuk!" kata Putri setelah balik lagi ke motor.
"Udah?"
"Udah, barusan,"
"Belum pamit ke Kelly?"
"Iya,"
"Cuma itu, Put?"
"Yup,"